Langkah Pasti TAXICITY

TUC menjadi salah satu penampil di acara TAXICITY VOL. I

Bagi mata, telinga, dan hati yang merekamnya, peristiwa yang terjadi pada hari Jumat (26/04) di Kafe Kantin Kita sangat layak dikenang. Puluhan pengunjung acara bulanan Tax Music Community (TAXIC) meleburkan diri dalam TAXICITY VOL. I. Gagasan kolektif TAXIC ini lahir dari rahim para pegiat musik di Ditjen Pajak. Bermula dari kesuksesan klinik musik bertajuk “Bass Clinic bersama Franky Sadikin”, TAXIC merapatkan barisan untuk menyukseskan sekaligus merayakan suksesornya dengan penuh suka cita.

TAXICITY merupakan kegiatan musik bulanan dari, oleh, dan untuk semua anggota dan simpatisan TAXIC. Misi edukasi dan kolaborasi menjadi pemantiknya. Idenya sederhana, sekaligus mahal. Merayakan selang-seling aktivitas berbagi pengetahuan berupa klinik musik dan pemahaman industri musik. Acara diagendakan saban minggu keempat akhir bulan. Narasumbernya kolaborasi antara internal dan eksternal. Dari musisi hingga pelaku industri musik.

Informasi TAXICITY VOL. I beredar melalui poster maupun pesan berantai selama seminggu pra-acara. TAXICITY VOL. I menggabungkan tiga ritual musik dalam satu paket acara. Pertama, Record Store Day DJP 2019. Kegiatan ini diikuti oleh empat lapak musik yang menjual aneka merchandise, album, dan buku terkait musik. Mereka adalah Kios Ojo Kios, TUC x Rarart, Jim Gorjy, dan TAXIC Store. Kedua, diskusi musik berjudul “Kobar Api Komunitas dan Nyala Bara Rilisan Album Musik”. Diskusi tersebut menghadirkan lima narasumber. Mereka adalah Dimas Ario (Manajer Efek Rumah Kaca), Gigih Santra (TUC), Aji Rebel (TUC), Olap Damanik (Rarart), dan Dikdik NZ (Nu Deja-vu). Ketiga, penampilan musik dari musisi internal DJP dari berbagai genre. Kelima band tersebut adalah Mupang, TUC, UNITAX, Radjiman, dan D’ Inisiator (The Initiators).

TAXICITY VOL. I dipandu oleh MC Nabil dan MC Ella. Dengan manajemen waktu presisi dan imej atraktif, keduanya menghangatkan suasana. Mereka mengantarkan peralihan acara dengan menyisipkan informasi mengenai acara. Puluhan voucher belanja yang mereka bagikan kepada peserta melipatgandakan euforia.

Jim Gorjy, salah satu pelapak yang berpartisipasi tak ragu menyatakan kekagumannya. “Salut ane kalian bisa bikin acara ini,” ujarnya. Hari itu Jim Gorjy mengantongi omzet lebih dari RP.500.000,- dari hasil penjualan CD impor dari beragam musisi. Pengunjung yang hadir menuntaskan rasa ingin tahunya. Mereka berpindah dari satu lapak ke lapak lainnya untuk memilah-milah album, kemudian membayar, dan memasukkannya ke dalam tas belanja. Ya, siapa yang menyangka ritual tahunan Record Store Day versi DJP turut mewarnai perayaaan peradaban musik.

Diskusi mengenai ilmu komunitas dan album musik saling diinjeksi antarnarasumber. Lima narasumber membagikan pengetahuan dan pengalaman mengenai komunitas, rilisan khusus, dan perayaan Record Store Day. Dikdik NZ, gitaris Nu Deja-vu, tak kuasa menahan ekspresi bahagianya. “Akhirnya kami pecah telor di sini, merilis album kedua di acara ini,” sambutnya pada sesi diskusi yang dipandu oleh Didik Y. Dimas Ario dan Gigih Santra memberikan wejangan yang berharga, di antaranya kekuatan komunitas adalah kolaborasi dan regenerasi. Hal ini diamini oleh Olap Damanik dan AJi Rebel. Mereka sepakat bahwa kolaborasi dan regenerasi mendorong eksistensi dan keterlibatan anggota di dalam komunitas.

Tak butuh waktu lama, setelah talkshow, penampilan atraktif dari band-band pengisi acara seketika menyentak. Kala musik dimainkan, penonton menggila. Semua larut menyanyikan lirik dan lagu yang dimainkan. Tanpa ragu, koor massal tercipta di beberapa lagu populer. Adu energi dalam tubrukan badan kala penonton menikmati lagu “Toxicity” dari TUC tak terelakkan. Pun dengan kekhidmatan dalam nyala api dari pemantik gas kala nomor wahid sekelas “Bohemian Rhapsody”, “18 and Life”, dan “The Spirit Carries On” dibawakan oleh UNITAX, D’ Inisiator, dan Radjiman.

Acara tuntas pada pukul 21.00 WIB. Ketua TAXIC, Agus Maulana menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang berpartisipasi. Foto bersama dan senda gurau disisipi oleh fragmen beres-beres lapak dan perlengkapan oleh panitia. Malam yang panjang berakhir. Namun, TAXICITY baru saja memulai langkah kecilnya untuk menjadi besar.

(Didik Yandiawan)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *